Tentang Self-Publishing
July 14, 2007 1:23 pm Artikel, UmumOleh: Bambang Trim
Direktur MQS Publishing
Sumber: Milis Editor Indonesia Forum
Self-publishing adalah gejala yang baik–dan god father ribuan buku di AS yang juga legenda hidup self-publishing Amerika, Dan Poynter, mengatakannya sebagai bisnis yang baik. Manual self-publisher berbahasa Inggris bisa kita temui, bahkan sewaktu di Malaysia saya menemukan sebuah tesis doktoral tentang self-publisher yang dibukukan.
Self-publishing merupakan saluran bagi para penulis yang naskahnya ditolak ataupun yang tidak puas dengan cara kerja penerbit. Syarat utama sebagai self-publisher, Anda memang harus paham seluk-beluk dunia ini, bukan sekadar semangat menerbitkan saja. Kepahaman yang dimaksud di antaranya:
- penulisan dan pernaskahan
- penyuntingan
- perwajahan
- penjualan dan distribusi
Butir terakhir kerap menjadi kendala ketika seorang self-publisher sulit menjual bukunya. Stephen King pernah menjual bukunya di bagasi mobil, mirip dengan para penjual dadakan yang biasa nongkrong di Senayan atau Gasibu Bandung setiap minggu. Dengan internet kini, bisa saja seorang self-publisher menjajakan dagagannya. Namun, dalam kancah lebih luas, seperti pasar konvensional toko buku, self-publisher harus menyiapkan perangkat bisnis yang lengkap, seperti faktur penjualan, invoice, NPWP, SIUPP, dan keanggotaan ISBN. Alih-alih usaha dalam bentuk home industry, seorang self-publisher juga malah menjadi sebuah perusahaan dengan bentuk CV atau yayasan.
Hal-hal yang penting dalam pembangunan perusahaan juga kerap dibedah dalam buku-buku manual self-publisher, seperti penamaan bisnis kita (nama itu penting, bukan sekadar ada), visi dan misi, serta business plan. Sepertinya gampang, tetapi sulit, namun bisa dilakukan.
Larry Dosey, seorang internis penulis buku yang mengkaji soal-soal spiritual dalam kesehatan menyebutkan bahwa cinta dapat melahirkan optimisme. Optimisme memungkinkan seseorang mencapai sukses. Seorang self-publisher harus memiliki cinta sejati terhadap dunia tulis-menulis dan dunia buku tentunya. Jadi, semangat menerbitkan bukan sekadar ingin melambungkan diri pribadi, tetapi juga semangat menebarkan ilmu. Nah, kalau sudah punya cinta, yang namanya ‘rimba penerbitan buku’ itu bisa kita rambah dan penerbitan sebenarnya bisnis menantang sekaligus mengasyikkan.
Self-publisher pada umumnya juga lama-lama menjadi penerbit umum ketika ia pun sebagai penerbit menerbitkan karya orang lain. Di sini akan muncul kesadaran sebenarnya betapa menantangnya menjadi penerbit. Sewaktu menjadi penulis dan memutuskan self-publishing, kerap kita merasa geram dengan cara kerja penerbit. Kita geram karena naskah ditunda-tunda; naskah diterima, tapi kemudian ditolak; naskah dilecehkan; atau kompensasi naskah tidak jelas. Itu sebenarnya semangat sebagian besar para self-publisher. Namun, kita mencoba bisnis ini dan kita pun berhadapan dengan penulis, terkadang baru kita akui ternyata sulit memuaskan yang namanya penulis. Makanya akhirnya timbul strategi yang disebut Work-Made-for-Hire atau mengerjakan naskah sendiri dengan melibatkan orang-orang dalam seperti editor karena kita kapok menghadapi penulis yang ‘rese’ atau banyak maunya. Alhasil, ke depan persoalan ketersediaan naskah adalah masalah krusial bagi penerbit–kemudian banyak yang terjungkal karena melakukan aksi plagiat.
Berbeda kasus dengan BOOK PACKAGER (perajin buku) yang kini juga tumbuh di Indonesia. Mereka menghimpun kekuatan menulis, perwajahan, dan ilustrasi untuk membuat buku yang siap cetak (ready to print atau ready to plate). Produksi mereka biasanya serial, terutama untuk buku anak-anak, lalu gagasan dalam bentuk kemasan buku itu pun dijual ke para penerbit. Book Packager bukan Self-Publisher. Mereka hanya memasarkan produk yang sebenarnya hasil dari jasa menulis dan perwajahan buku. Karena itu, buku-buku hasil ‘kerajinan’ itu kerap dijual dengan cara flat fee dan dibandrol dari harga Rp1juta hingga Rp5 juta. Penerbit yang menggunakan jasa mereka biasanya memang senang menempuh jalan pintas karena pengembangan naskah (development editing) justru dilakukan oleh para perajin buku ini. Alhasil, terkadang antara satu dan lain penerbit terdapat kesamaan ciri produk, baik dari segi desain maupun ide penulisanannya.
Memang tampaknya perlu orientasi dan edukasi untuk para calon self-publisher agar bisa benar-benar memahami bisnis ini seutuhnya. Terima kasih.
BT



